Post power syndrome, begitu sebutan yang seringkali ditujukan untuk seseorang yang memasuki masa pensiun atau sehabis melepas jabatan tertentu. Kembali menjalani hari-hari biasa kadang-kadang menjadikan yang bersangkutan merasa kesepian. Bagi yang tak bisa mengendalikan diri, munculah dampak seperti gampang marah tanpa sebab.
Namun lain halnya bagi Winarso, mantan pejabat di Perum Pegadaian Yogyakarta ini dalam melewati masa pensiun dengan mencoba beternak ayam bekisar. Beruntung menjelang memasuki purnatugas, perusahaannya membekali dengan pelatihan wirausaha. Beternak ayam bekisar menjadi pilot project-nya yang pertama dan ternyata hasilnya cukup menggembirakan.
’’Jauh hari sebelum praktik ternak, sekitar tahun 1980-an sudah mulai menggemari bekisar. Namun ketika itu hanya suka dan memelihara sebagai klangenan,’’ ungkapnya yang kini tinggal di Onggobayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.
Sebagai penggemar dia sudah memiliki dasar-dasar memelihara bekisar seperti agar ayam selalu fit, bulu terlihat mengkilat, suara nyaring, jernih tidak serak, dan lainnya. Bekal tersebut sangat membantu dia ketika memasuki dunia usaha tak lagi sekadar menggemari.
Memang, jelas ada beda antara menggemari dan membudidayakan atau keduanya. Penggemar belum tentu dapat membudidayakan dan sebatas memelihara, memiliki sedangkan beternak berarti harus memproduksi anakan dan membesarkannya. Kalaupun menyukai keduanya, konon seorang peternak sekaligus pedagang pantang menyukai barang dagangannya. Logikanya, agar hasil produksi terus terjual, uang berputar sehingga tidak ada yang terhenti.
Sebelum memulai usahanya, dia sempat berguru ke peternak lain, Nur Purwanto. Selama tiga bulan dia belajar mengenai seluk-beluk ayam hutan sebagai pejantan dan jenis lain untuk betina. Dia juga melihat dari dekat proses perkawinan, penetasan, dan pemeliharaan sampai anakan siap jual.
Setelah menimba ilmu di peternakan Nur, dia kemudian mengawali usaha dengan membeli sejumlah indukan. Kini di rumah sekaligus kandang ayamnya terdapat 12 pejantan ayam hutan asal Kokap, Kulonprogo, dan Kaliangkrik, Magelang. Betina pilihan ada 16 ekor yang dikawinkan dengan dodokan sedangkan penetasan melalui pengeraman alami dan buatan.
’’Ketika baru mulai usaha datang badai menerpa, isu flu burung. Banyak yang bilang bisa-bisa semua unggas dibakar,’’ tuturnya.
Tapi dia tetap nekat menjalani usahanya. Setiap saat ayam diperiksa, kandang dibersihkan, dijemur. Kebersihan, menurutnya, merupakan satu-satunya langkah awal agar ayam tetap sehat. Hasil ketelatenannya, semua ayam sehat dan tak ada yang terkena flu burung.
Laki-laki berusia 57 tahun tersebut sekarang menjalani usaha dengan tenang mengisi waktu luang setelah tak lagi bekerja rutin sebagai PNS. Anakan bekisar mendatangkan rezeki, tiap ekor berusia tiga-empat bulan dijualnya Rp 100.000-Rp 175.000.
Salah seorang pengurus Keluarga Penggemar Bekisar (Kemari) Pusat, Lulu Budihardjo mengungkapkan, beternak bekisar memang menjadi salah satu pilihan di hari tua. Kecuali sebagai kesibukan juga mendatangkan uang. Dia berharap akan makin banyak peternak agar bekisar menjadi semakin marak.
SUMBER : (http://www.ciputraentrepreneurship.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar